Ternyata di Laweung Selain Gua Tujoh Ada Gua Unoe/Lebah

www.meucensemua.blogspot.com
Gua Unoe di Laweung, Pidie. Foto: Nuzul

Seputaran pabrik semen Laweung-Batee adalah kawasan batu karang yang mudah dijumpai lubang-lubang alami dan ceruk-ceruk dalam yang belum habis diteliti. Di sanalah banyak dijumpai gua-gua dalam tak bernama dengan keunikannya tersendiri. Bila Anda mengira hanya Gua Tujoh yang ada di Laweung, stop!!! Anda salah besar. Yang benar Gua Tujoh adalah gua terbesar dan terpopuler yang pernah ditemukan di sana. Sebenarnya kalau Anda jalan-jalan dari Kulee Batee sampai ke Laweung, tepatnya di barisan pegunungan yang berhutan jarang itu, pada batu-batu karang di kedua sisi jalan, pada bukit-bukit rendah yang melelahkan dan membikin mudah tersesat saat didaki, di sana banyak tersembunyi lubang-lubang alam ciptaan Tuhan atau gua alami, serta lubang-lubang rahasia yang dibuat untuk tujuan tertentu semasa invansi tentara Jepang tempo dulu. Kedua-duanya sama menarik untuk dijelajahi.

Cerita Legendaris Pencuri Tujuh Part 2 (Habis)



Ilustrasi Mikmilia www.meucensemua.blogspot.com
Cerita dan Ilustrasi: Mikmilia

Mulailah semua trik dikeluarkan oleh ketujuh maling populer  itu. Mula-mula Jokwir yang berwatak culas mendapat ilham untuk menyikat ayam jago yang ada di rumah sobatnya, Meun. Dia pun bergegas melaksanakan niatnya. Benar saja, di rumah Meun ada seekor ayam jago kuat yang biasanya dibawanya taruhan di gelanggang sabung ayam. Jokwir pun dengan cekatan membungkamnya

Cerita Legendaris Pencuri Tujuh: Tercuri

Cerita dan Ilustrasi Mikmilia/www.meucensemua.blogspot.com
Cerita dan Ilustrasi: Mikmilia
Kampung yang damai tiba-tiba diresahkan oleh tujuh maling yang saban malam menyantroni rumah warga. Sasaran mereka biasanya hewan peliharaan yang tidak mungkin dibawa pemiliknya masuk ke rumah. Kalau perhiasan seperti gelang emas, manik, anting-anting dan lain sebagainya mereka kesampingkan dikarenakan harus bersusah payahmenerabas masuk ke dalam rumah. Selain harus ekstra hati-hati,  juga rawan tertangkap.  Jadi, sebelum aksi pertama mereka membekap hewan-hewan di rumah penduduk kampung dimulai, mereka sudah duduk berembuk mengenai visi dan misi perkumpulan mereka. Untuk visi, ketujuh maling ini merumuskan sebagai berikut: Dalam rangka mensejahterakan anggota perkumpulan, semua hewan ternak yang sudah akil baligh (maksudnya bukan bayi ternak) sah diangkut paksa untuk dinikmati bersama dan pembagiannya diatur oleh ketua kelompok. Sementara misinya dijabarkan begini: a. berupaya sebaik mungkin mencuri ternak orang yang terkaya (kalau ada) serta boleh mencuri kepunyaan si miskin (mendesak), b. berupaya lemah lembut pada ternak serta tidak melanggar HAH (Hak Asasi Hewan), c. berupaya mengesampingkan hewan-hewan yang dipelihara tunggal  untuk melindungi hewan dari kepunahan, d. berupaya menjaga perasaan orang yang ternaknya dicuri serta menjaga ketertiban lingkungan (entah apa maksud dari poin terakhir ini). 

Singkat kata, visi dan misi itu telah menyebabkan kreatifitas pencurian mereka meroket tajam. Dalam dua bulan terakhir, kampung damai yang dulunya mudah dijumpai ternak bermanja-manja di sepanjang jalan, sapi-kerbau yang parkir sembarang tempat, ayam-bebek yang suka kumpul membuat komunitas-komunitas tanpa nama, mendadak berkurang drastis. Lenguh sapi di kandang belakang rumah warga pun jadi jarang terdengar. Suara kukuruyuk si Jago yang biasanya lantang membelah langit pagi pun hampir tak terdengar. Sawah luas yang biasanya dipergunakan kawanan bebek untuk mengais makanan alami guna mencukupi asupan nutrisi mereka kini menjadi lengang, tanpa terdengar keluh kesahnya yang lucu.

Malam itu purnama merekah di langit yang terang. Pendar cahayanya sangat indah saat tertimpa atap seng rumah warga. Bagai kemilau batu permata. Sementara di kepadatan semak yang sedikit menyebelah dari kampung, kawanan tujuh sekawan sedang rebahan sambil menatap rembulan yang membeliak ke arah mereka.
“Melihat bulan yang indah dan bundar begini, rasanya aku ingin mengulang nostalgia kita dulu, saat pertama kali menekuni bisnis ini. Bukankah waktu itu kita berhasil menangkap ayam sebanyak jumlah kita?” Ketua maling menoleh ke arah kawan-kawannya.
“Ya, Ketua, saat itu kita berhasil menangkap ayam jago terbaik yang ada di kampung kita,” sahut Ifin, maling terjangkung di antara kawan-kawannya.
“Dan malam itu kita menyantap lahap ayam-ayam itu untuk melaunching bisnis baru yang kita geluti,” timpal Yantui, pria berperut buncit yang senang kuliner.
“Betul, aku masih ingat semua. Perasaan baru kemarin, deh,” ujar Meun bersemangat. Dia yang berperawakan tinggi kokoh bangkit dari tidur-tidurannya.
“Kau kan yang menghabiskan jatahku?” tunjuknya pada Yantui yang seketika mengembangkan senyum manisnya sehingga kedua pipi penuhnya ikut terangkat ke atas.
“Urusan perut siapa lagi jagonya kalau bukan dia,” tambah Maman yang sedari tadi diam saja. Dia ikut-ikutan bangkit dan duduk beralaskan ilalang sambil menjulurkan kakinya ke depan.
“Eh, Ket, apa maksudmu sih mengungkit masa lalu kita itu? Aku tak percaya kamu tak punya tujuan apa-apa?” tanya Udin yang sedari tadi menilai Ketua mereka punya maksud tersembunyi di balik nostalgia mereka.
“Kau memang mudah menebakku, Din. Aku memang punya maksud tersendiri. Bayangkan, di saat purnama begitu indahnya mekar di tengah-tengah langit, kita hanya menatapnya saja tanpa ada yang kita kerjakan. Tidak seru, bro! Mending kita mengulang lagi nostalgia kita, bagai mana?”
“Aku setuju!” jawab Jokwir ikut nimbrung. “Tapi, sebaiknya hukuman bagi yang tidak berhasil mendapatkan tangkapan dihapuskan saja mengingat kita sedang bukan dalam agenda dinas,” ujarnya memberi usul.
“Mana bisa? Yang namanya maling tetap maling, yang namanya hukum tetap hukum, tidak ada alasan sedang di luar dinas kek, kalau mau jadi maling sukses harus menerapkan hukum yang tegas dan disiplin,” kata Ketua menegaskan aturan main yang biasanya dia terapkan dalam setiap aksi mereka.
“Jadilah maling yang berprinsip! Tidak asal colek sana-colek sini, ntar kau dicolek polisi ke penjara, baru tahu rasa kau!” Ketua mendelik ke arahnya. Jokwir yang berbadan kurus kerempeng terdiam dan kecut.
“Sudahlah, diterima aja, Jok, aku yakin kok kau pasti lebih gesit daripada kami. Tuh kan, hukum aja berani kautentang, kau memang didesain untuk jadi pemenang, bukan pecundang,” celoteh Udin memberi semangat. Setelah dibujuk dengan beragam cara, akhirnya dia pun setuju.  

Jadilah malam itu kawanan Pencuri Tujuh berpencar ke tujuh penjuru bumi untuk mengemban tugas mulia kelompok mereka. Tugas itu sebenarnya enteng saja, hanya menangkap ayam. Tapi setelah dijalani di lapangan, dengan kelihaian mata musang mereka, dengan kegesitas ceurapee (binatang lincah pemangsa ayam yang gesit tiada dua) yang mereka miliki, tahulah mereka ternyata stok ayam jago di kampung mereka sudah hampir punah. Kandang-kandang cuma berisi ayam betina dengan bayi-bayinya yang belum akil balig (masih belum boleh disikat menurut undang-undang mereka). Kalaulah ada tentunya di restoran ayam tangkap, tapi itu tidak mungkin karena Ketua mereka sangat benci makan ayam tangkap karena harus bersusah-payah menyapu sampah dedaunannya terlebih dahulu.’ Pokoknya menyebalkan,’ begitu selalu ucapannya saat menu mereka di restoran ada ayam tangkapnya. Wah, wah, wah, buntu jadinya. Baru pertama kali inilah kawanan ini merasa bego sendiri, merasa tak berdaya dan tak dapat melakukan apa-apa,  skakmat. Sementara di lain sisi mengakui kekalahan adalah prinsip yang paling pantang dilakukan. Pencuri sukses bukanlah yang mengalah dan kalah tapi yang mencoba 1001 cara untuk menggapai impiannya, begitu bunyi petuah bijak yang selalu Ketua dendangkan di telinga mereka.  Mau tak mau, mereka harus mendapatkan ayam-ayam itu. Bagai manapun  caranya! 

 
Baca Juga:



Batu Landak di Padang Tiji Laku 83 Juta



mikmilia-meucensemua.blogspot.com
Batu landak atau geliga yang ditemukan di Padang Tiji, Kab, Pidie (Foto Repro Meme)

Banyak hal aneh terjadi di zaman modern ini. Keanehan yang tidak masuk akal itu terjadi pada apa saja, sebut saja seseorang yang mendadak kaya karena menemukan suatu benda yang dimuntahkan paus di lautan atau batu-batu gunung yang dihargai gila-gilaan karena dianggap memiliki magis (batu giok). Dan yang satu ini masih seputaran batu, tapi bukan batu cincin, tapi batu landak atau yang sering dinamakan dengan geliga landak.

Puisi Akhir Tahun


Puisi/ilustrasi Mikmilia

Yang Datang Yang Pergi

Lenyaplah temaram bulan
Tanggallah sesak hari
Sirnalah cemerlang mentari
Seberkas titik datang menyongsong
Noktah muda yang dulu tak berupa
Dari balik pekat tebarkan warna dan irama
Sekantong detik waktu menggumam sapa
Kereta senja larikan masa
Berputar di garis tak menentu
Sementara halte bertambah sesak
Kereta pun harus memarkirkan usia di sana

Duhai usia…
Tidaklah bertambah dirimu sedepa
Melainkan berkurang sehari sehasta
Tiliklah badan berkerut usang
Meminta istirahat panjang
Melepas lelah, jemu dan takut
Tahulah badan untung di sana
Dalam dekap sang ibu tercinta
Duhai waktu...Tak penatkah dirimu?




Baca Juga:



 

Cerita Siti Geulima dan Legenda Dua Paya di Padang Tiji

Cerita dan Ilustrasi: Mikmilia Aziz

Cerita dan Ilustrasi: Mikmilia Aziz

Gadis langsing berkulit bersih itu memiliki sepasang mata yang indah memancarkan cahaya. Kelopak matanya dihiasi bulu-bulu lentik yang tumbuh serasi dengan alis mata yang tebal dan meruncing di kedua sisinya. Hidungnya mancung hampir serupa paruh nuri. Pipinya yang merona terpadu apik dengan bentuk bibirnya yang bagaikan sapuan garis sesenti pada kanvas si pelukis. Ah, tak dapat kujelaskan lagi dengan lebih
baik bagaimana cantik jelitanya gadis ayu yang hidup hanya dalam sebuah rumah panggung tanpa pernah memijakkan kakinya di

Allah Pasti Mengabulkan Semua Doa Kita!


Mikmilia Aziz
Ilustrasi: Mikmilia Aziz

Pada kemanusiaan kita terdapat dua sisi yang berdampingan, yang nampak dan yang terselubung. Kedua sisi itu kadang-kadang menimbulkan pertentangan sehingga berdampak tidak baik pada jiwa dan realitas keimanan. Seharusnya keduanya berputar pada porosnya masing-masing serta menjadi penyelamat. Tapi seperti halnya kejadian gerhana, gerhana pada jiwa manusia lebih menakutkan.

Panglima Perang Aceh ini Menolak Dijadikan Sultan

meucensemua.blogspot.com

Tuanku Hasyem Banta Muda

Baru-baru ini Presiden Jokowi meresmikan seorang srikandi  dari Aceh, Laksamana Malahayati sebagai Pahlawan Nasional. Sebenarnya Sang Laksamana wanita tangguh pertama di dunia ini sudah puluhan tahun yang lalu masuk dalam daftar Pahlawan Nasional, tapi kita beri apresiasi untuk Pemerintah yang punya iktikad baik, menoleh kembali lembaran sejarah keperkasaan seorang Malahayati yang mengguncang dunia. Jadi, emansipasi sepertinya bukan barang baru. Aceh sudah berabad lalu menyediakan ruang yang luas untuk kaum hawa mengekspesikan dirinya. Jadi, boleh dikata Aceh adalah inspirator emansipasi wanita di dunia, setuju? 

Oya, sebenarnya ada beberapa pejuang Aceh lainnya yang sangat layak dijadikan Pahlawan, the real hero, bukan sekedar the hero yang dipaksakan oleh rezim politik. Salah satunya adalah Tuanku Hasyem Banta Muda, panglima perang tertinggi kerajaan Aceh yang membawahi pulau Sumatra. Belanda sangat memperhitungkan ketangguhan Beliau yang luar biasa. Beliau yang berkepribadian sederhana ini diminta untuk dinobatkan sebagai Sultan Aceh, tapi selalu menolaknya. Beliau hanya berjuang lillahi taala. Tuanku Hasyem adalah sosok pahlawan yang ada seperti dalam dongeng. Ayo simak video singkat biografinya yang penulis himpun.


Baca Juga:

Memahami Tajalliat Jalal-Jamal Yang Maha Mulia

Ilustrasi: Mik
Dalam hidup kita banyak hal-hal berat yang harus kita jalani, ada kejadian-kejadian dahsyat yang mungkin mengguncang kehidupan kita, baik psikis maupun fisik. Tentu problema kehidupan ini datangnya tanpa kita undang karena yang namanya kehidupan adalah bagian
dari problema. Artinya kalau kita